PAHLAWAN PENAKLUK KONSTANTINOPEL”
Assalamu’alaikum.wr.wb...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم. الحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ العّالّمِيْن. وَصَلاَةُ وَسَلَّم عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْن.
سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّد وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن. أَمَّا بَعْد
Pertama.., marilah kita panjatkan rasa syukur kehadirat
Allah SWT, karena atas rahmat dan kasih sayangnya kita masih diberi kesempatan
untuk terus beribadah kepadaNya.
Shalawat dan salam rindu semoga tetap tercurahkan kepada
Nabi Agung kita, Muhammad saw, karena hidayah yang dibawanya, kita masih bisa
merasakan nikmatnya iman dan islam.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Siapakah
sang pahlawan ini?... Ia seorang mukmin yang dilahirkan di semenanjung arabia,
gugur dalam usia 80 tahun, rambutnya telah beruban, ia gugur fii sabiilillaah di bawah benteng
konstantinopel. Seorang muslim tidak memiliki satu negeri, seluruh dunia adalah
negerinya, karena merupakan milik Allah.
Lalu siapakah pahlawan kita ini?... Dialah yang menyambut Rasulullah saw dihari
beliau meninggalkan kota Mekkah untuk menghindari terorisme, menghindari pedang
yang menebas karena kebencian. Penduduk Mekkah menjual semua miliknya,
mengisolasi, menyakiti, mencacinya dan meletakkan duri dijalan yang dilaluinya.
Maka beliau harus keluar demi membawa risalah dan dakwah yang selalu
dipertahankan walau bagaimana pun keadaannya, walau bagaimana pun bentuk
penyiksaan dan boikot yang harus dihadapi orang-orang beriman.
Nabi saw
berangkat menuju Madinnah menuju kaum Anshar, menuju kekasih Allah, menuju pasukan
islam. Perjalanan itu ditempuhnya selama 10 hari, kakinya melepuh oleh panasnya
padang pasir, tubuhnya dipenuhi rasa lapar, haus, lelah, dan kepayahan. Akan
tetapi semuanya demi perjuangan dijalan Allah. Di siang yang panasnya begitu
menyengat kaum Anshar keluar untk menyambut pahlawan terbesar yang dikenal oleh
sejarah dan menusia teragung yang berjalan diatas bumi.
Kaum laki-laki menyambut dengan pedang dan panah, untuk
memberikan penghormatan bagi sang pemimpin yang ditunggu- tunggu sedangkan kaum
wanita berada di atas loteng rumah mereka, berharap bisa melihat wajah yang
memancarkan cahaya dan kenyakinan. Adapun anak-anak menyebar, mereka bagaikan
mutiara dan batu permata berjajar dipinggir jalan bertepuk tangan dan
mengulang-ulang qasidah, yang seperti thola’al badru ‘alaiinaa :
Telah
muncul bulan di tengah kita
Datang
dari arah tsaniatil wada’
Kita
harus bersyukur
Karena
ia menyeru kita kepada Allah
Wahai
Nabi yang diutus pada kami
Kau
datang dengan perintah yang ditaati
Kau
datang membuat Madinah menjadi terhomat
Selamat
datnang wahai sebaik-baik da’i
Di siang
hari yang abadi dan takkan terlupakan selamanya, tiba-tiba ada yang berteriak
dengan keras dan penuh kegembiraan, katanya : Rasul telah datang. Maka
orang-orang Anshar keluar dengan membawa pedang mereka, seolah mereka manusia
yang dibangkitkan dari kuburnya, dibangkitkan dalam kehidupan yang baru, rasa
cinta telah mengalir dalam darah mereka, kehidupan menjadi baru kembali untuk
mereka.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Pada saat itu Rasul saw shalat di
atas ontanya. Anas berkata : Demi Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, dahulu aku
menyangka bahwa tidak ada orang yang menangis lantaran suka cita, sampai
akhirnya aku menyaksikan sendiri kaum Anshar menangis suka citanya oleh
datangnya Rasulullah saw.
Rasulullah
saw berdiri untuk memberikan salam kepada setiap kabilah, mereka berebut
menuntun tali ontanya berharap beliau akan menjadi tamunya. Sehingga harus
beliau berkata : lepaskanlah karena sesungguhnya ia dikendalikan. Allahlah yang
mengendalikannya, Allah yang mengendalikan onta nabi saw dari langit ke tujuh.
Biarkan dia berjalan, jika ia berhenti disuatu tempat
maka disitulah aku akan menginap. Onta melewati bani Bayyadlah. Mereka pun
keluar dengan membawa pedang, kegembiraan pun menyelimuti mereka karena melihat
Rasulullah saw. Mereka berkata : Anda menjadi tamu kami. Beliau menjawab :
Lepaskanlah, karena sesungguhnya ia dikendalikan. Beliau tersenyum dan
berterima kasih kepada mereka.
Kemudian onta itu oleh Amr bin Auf sedangkan mereka telah
berbaris dipingir jalan untuk memberikan pengormatan kepada beliau. Mereka
berkata : Anda menjadi tamu kami. Beliau menjawab : Lepaskanlah, karena
sesungguhnya ia dikendalikan.Lalu onta itu berjalan melewati bani Najjar, sehingga
anak-anak laki- laki dan perempuan keluar.
Rasulullah saw tersenyum dan menaikkan anak-anak itu ke
atas onta lalu menciumnya satu persatu, lalu meninggalkannya. Selanjutnya onta itu merunduk ditempat yang sekarang
menjadi masjid beliau. Ketika onta itu merunduk, beliau menunggu sebentar dan
tidak turun dari punggungnya. Lalu onta itu berdiri lagi dan berjalan sebentar
lalu kembali ke tempat semula dan merebah. Lalu Rasulullah saw turun, maka
ketika itulah orang tua yang menjadi pahlawan dan gugur di negeri romawi
bergegas membawakan barang-barang Rasulullah saw. Orang-orang bani Najjar
berkata : jadilah tamu bagi kami. Beliau berkata : Tidak, aku menjadi tamu
laki-laki yang membawakan perlengkapanku itu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Beliau berjalan dibelakang orang tua itu yang ternyata
adalah “Abu Ayyub Al-Anshari” Setibanya
dirumah, ia berkata : Wahai Rasulullah,
rumah saya ini ada dua tingkat, anda diatas dan saya tinggal di bawah.
Beliau menjawab : Aku ingin dekat dengan orang-orang,
dekat dengan masjid, maka aku memilih di sini. Yang beliau maksudkan adalah di
bawah. Maka Abu Ayyub menempatkan beliau di bawah, sedangkan dia dan istrinya
tinggal di atas.
Tibalah waktunya tidur, namun Abu Ayyub hanya membolak
balikkan tubuhnya, seolah ia kepanasan sehingga tidak dapat tidur. Sang istri
bertanya : “ ada apa denganmu? Mengapa kamu tidak tidur?”
Ia menjawab: “ Demi Allah aku tidak dapat tidur,
bagaimana mungkin aku tidur di atas, sedangkan Rasul saw tidur di bawahku ?”
Paginya Abu Ayyub berusaha membujuk Rasul saw agar mau
tinggal di atas, namun beliau tetap menolak.
Ketika makanan dihidangkan untuk Abu Ayyub, dan ia sudah
mengangkat tangannya untuk makan dan begitu pula dengan istrinya, tiba-tiba
mereka urungkan. Mereka berkata: ”Demi Allah kami tidak akan makan sehingga
Rasulullah saw makan. Lalu ia turun sambil membawa nampan berisi makanan berupa
olahan tepung daging panggang dan ia berikan sebagai jamuan bagi Rasulullah
saw. Sungguh sebuah jamuan terindah dalam sejarah.
Pada suatu malam Abu Ayyub bangun untuk shalat, tanpa
sengaja ia membentur tempat air dan pecah. Melihat air menggenangi lantai, ia
segera melepas mantelnya untuk mengeringkan lantai agar tidak sampai membasahi
Rasul saw. Lalu ia berkata: ”Wahai Rasulullah, aku memohon kepada anda atas
nama Allah, anda tinggallah di atas dan saya di bawah,” baru kemudian beliau
mau naik ke atas.
Ia benar-benar menjaga Rasul saw dan tidak
menyia-nyiakannya. Nabi sering mendoakannya dan mencarinya. Beliau melihatnya
sebagai seorang yang sudah tua namun penuh berkah, yang segalanya ada padanya
telah menjadi putih: agama, janggut, hati dan prinsipnya.
Kisah ini menunjukkan bagaimana ke zuhudan Nabi saw dan
begitu pula dengan para sahabatnya, serta untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan
Abu Ayyub Al-Anshari.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Hari
demi hari berlalu, kaum muslimin menyeru bala tentaranya untuk berjihad di
jalan Allah, untuk menaklukkan konstantinopel dan memerangi pasukan romawi
untuk memperluas kawasan islam.
Tak
kala Abu Ayyub mendengar seruan jihad, ia segera mengambil pedang dan
tombaknya, lalu mengendarai keledainya dan pergi ke medan perang. Ketika
anak-anaknya mencegah dengan berkata : ” anda orang yang sudah tua, usia anda
sudah delapan puluh tahun.”
Dia
menjawab : ” tidak.”
Mereka
berkata : ” Allah memberimu udzur, karena engkau kakek tua yang sudah
sakit-sakitan dan tidak sanggup berperang.”
Ia
menjawab : ” Demi Allah tidak, sesungguhnya Allah berfirman :
(#rãÏÿR$#
$]ù$xÿÅz
Zw$s)ÏOur
(#rßÎg»y_ur
öNà6Ï9ºuqøBr'Î/
öNä3Å¡àÿRr&ur
Îû
È@Î6y
«!$#
4
öNä3Ï9ºs
×öyz
öNä3©9
bÎ)
óOçFZä.
cqßJn=÷ès?
ÇÍÊÈ
” Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan
maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang
demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS.
At-Taubah:41)
Memang
berat untukku, namun demi Allah aku akan tetap berangkat,” maka ia pun pergi
menuju medan jihad.
Perhatikanlah
usia yang penuh berkah ini, bandingkan dengan mereka berusia delapan puluh
tahun di zaman ini yang justru berusaha mengakhiri perjalanan hidupnya dengan
kesaksian palsu, permainan, kedzaliman, dan kebohongan. ! Na’udzubillah... sudah tua renta namun tak jua bertaubat!
Kita
di buat terkejut oleh orang yang sudah tua renta namun bersumpah palsu,
mencuri, memutus tali silaturrahim, menganggu tetangga dan menggunjing di
tengah orang banyak.
Adapun
Abu Ayyub, ia jadikan usianya yang sudah delapan puluh tahun sebagai ketaan
kepada Allah, dia berangkat bersama para pasukan dengan menaiki bahtera
mengarungi samudera, seraya melagukan kalimat yang abadi Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah.
Pertempuran
telah dimulai, maka ia pun mandi, memakai kain kafannya, memakai wewangian dan
berkata kepada kaum muslimin : Aku meminta kepada kalian demi Allah, jika hari
ini aku terbunuh, carilah akhir batas tanah kaum muslimin dengan orang romawi,
kuburkan aku di bawah benteng konstantinopel, semoga Allah membangkitkan aku di
hari kiamat kelak sebagai seorang mukmin di antara orang-orang kafir. Allahu Akbar...
Akhirnya
dalam pertempuran itu kepalanya yang suci, yang selama ini senantiasa bersujud
kepada Allah, terpenggal. Abu Ayyub gugur dan dimakamkan di sana, siapa yang
pergi ke sana hendaknya ia mengucapkan salam kepadanya, sampaikan pula salam
kaum muslimim kepadanya.
Salam
sejahtera untuk Abu Ayyub Al-Anshari dari semenanjung Arab, semoga Allah
memberikan balasan pahala atas jasanya pada ummat Muhammad saw.
Semoga
Allah memberinya kebaikan sebagaimana ia telah berbuat kebaikan kepada kita,
dan semoga Allah mengumpulkan kita dengannya di negeri kemuliaan. Aamiin ya
robbal a’lamiin.
Semoga
apa yang saya sampaikan bermanfaat, kekurangan hanya milik saya, kelebihan
hanya milik Allah.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Tharieq
Wassalamu’alaikum.wr.wb...
assalamu'alaikum,
BalasHapusayu. good.uda bikin tulisan ini.
cb, yg selanjutnya km ksh uraian dr km pribadi. misal apa yg hrs diteladani dr tokoh tsb. dan di setting lagi layoutnya spy pembaca lbh nyaman mbacanya. trims
Good ay, keep writing yaa...
BalasHapusuntuk selanjutnya coba untuk mengembangkan tulisan dg menambahkan argumentasi pean, oke..:)
monggo sareng2 belajar..^^
inspirasi baru...di tunggu kisah slanjutx ukhti...:)
BalasHapusBagus... sy juga pengagum sultan. Cm jgn copast ya... biar menarik. :)
BalasHapus