Senin, 17 Maret 2014

PAHLAWAN PENAKLUK KONSTANTINOPEL”



PAHLAWAN PENAKLUK KONSTANTINOPEL”
Assalamu’alaikum.wr.wb...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم. الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العّالّمِيْن. وَصَلاَةُ وَسَلَّم عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْن. سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّد وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن. أَمَّا بَعْد

Pertama.., marilah kita panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan kasih sayangnya kita masih diberi kesempatan untuk terus beribadah kepadaNya.
Shalawat dan salam rindu semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Agung kita, Muhammad saw, karena hidayah yang dibawanya, kita masih bisa merasakan nikmatnya iman dan islam.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…
            Siapakah sang pahlawan ini?... Ia seorang mukmin yang dilahirkan di semenanjung arabia, gugur dalam usia 80 tahun, rambutnya telah beruban, ia gugur fii sabiilillaah di bawah benteng konstantinopel. Seorang muslim tidak memiliki satu negeri, seluruh dunia adalah negerinya, karena merupakan milik Allah.
Lalu siapakah pahlawan kita ini?... Dialah yang menyambut Rasulullah saw dihari beliau meninggalkan kota Mekkah untuk menghindari terorisme, menghindari pedang yang menebas karena kebencian. Penduduk Mekkah menjual semua miliknya, mengisolasi, menyakiti, mencacinya dan meletakkan duri dijalan yang dilaluinya. Maka beliau harus keluar demi membawa risalah dan dakwah yang selalu dipertahankan walau bagaimana pun keadaannya, walau bagaimana pun bentuk penyiksaan dan boikot yang harus dihadapi orang-orang beriman.
            Nabi saw berangkat menuju Madinnah menuju kaum Anshar, menuju kekasih Allah, menuju pasukan islam. Perjalanan itu ditempuhnya selama 10 hari, kakinya melepuh oleh panasnya padang pasir, tubuhnya dipenuhi rasa lapar, haus, lelah, dan kepayahan. Akan tetapi semuanya demi perjuangan dijalan Allah. Di siang yang panasnya begitu menyengat kaum Anshar keluar untk menyambut pahlawan terbesar yang dikenal oleh sejarah dan menusia teragung yang berjalan diatas bumi.
Kaum laki-laki menyambut dengan pedang dan panah, untuk memberikan penghormatan bagi sang pemimpin yang ditunggu- tunggu sedangkan kaum wanita berada di atas loteng rumah mereka, berharap bisa melihat wajah yang memancarkan cahaya dan kenyakinan. Adapun anak-anak menyebar, mereka bagaikan mutiara dan batu permata berjajar dipinggir jalan bertepuk tangan dan mengulang-ulang qasidah, yang seperti thola’al badru ‘alaiinaa :
Telah muncul bulan di tengah kita
Datang dari arah tsaniatil wada’
Kita harus bersyukur
Karena ia menyeru kita kepada Allah
Wahai Nabi yang diutus pada kami
Kau datang dengan perintah yang ditaati
Kau datang membuat Madinah menjadi terhomat
Selamat datnang wahai sebaik-baik da’i
            Di siang hari yang abadi dan takkan terlupakan selamanya, tiba-tiba ada yang berteriak dengan keras dan penuh kegembiraan, katanya : Rasul telah datang. Maka orang-orang Anshar keluar dengan membawa pedang mereka, seolah mereka manusia yang dibangkitkan dari kuburnya, dibangkitkan dalam kehidupan yang baru, rasa cinta telah mengalir dalam darah mereka, kehidupan menjadi baru kembali untuk mereka.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
            Pada saat itu Rasul saw shalat di atas ontanya. Anas berkata : Demi Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, dahulu aku menyangka bahwa tidak ada orang yang menangis lantaran suka cita, sampai akhirnya aku menyaksikan sendiri kaum Anshar menangis suka citanya oleh datangnya Rasulullah saw.
            Rasulullah saw berdiri untuk memberikan salam kepada setiap kabilah, mereka berebut menuntun tali ontanya berharap beliau akan menjadi tamunya. Sehingga harus beliau berkata : lepaskanlah karena sesungguhnya ia dikendalikan. Allahlah yang mengendalikannya, Allah yang mengendalikan onta nabi saw dari langit ke tujuh.
Biarkan dia berjalan, jika ia berhenti disuatu tempat maka disitulah aku akan menginap. Onta melewati bani Bayyadlah. Mereka pun keluar dengan membawa pedang, kegembiraan pun menyelimuti mereka karena melihat Rasulullah saw. Mereka berkata : Anda menjadi tamu kami. Beliau menjawab : Lepaskanlah, karena sesungguhnya ia dikendalikan. Beliau tersenyum dan berterima kasih kepada mereka.
Kemudian onta itu oleh Amr bin Auf sedangkan mereka telah berbaris dipingir jalan untuk memberikan pengormatan kepada beliau. Mereka berkata : Anda menjadi tamu kami. Beliau menjawab : Lepaskanlah, karena sesungguhnya ia dikendalikan.Lalu onta itu berjalan melewati bani Najjar, sehingga anak-anak laki- laki dan perempuan keluar.
Rasulullah saw tersenyum dan menaikkan anak-anak itu ke atas onta lalu menciumnya satu persatu, lalu meninggalkannya. Selanjutnya onta itu merunduk ditempat yang sekarang menjadi masjid beliau. Ketika onta itu merunduk, beliau menunggu sebentar dan tidak turun dari punggungnya. Lalu onta itu berdiri lagi dan berjalan sebentar lalu kembali ke tempat semula dan merebah. Lalu Rasulullah saw turun, maka ketika itulah orang tua yang menjadi pahlawan dan gugur di negeri romawi bergegas membawakan barang-barang Rasulullah saw. Orang-orang bani Najjar berkata : jadilah tamu bagi kami. Beliau berkata : Tidak, aku menjadi tamu laki-laki yang membawakan perlengkapanku itu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Beliau berjalan dibelakang orang tua itu yang ternyata adalah “Abu Ayyub Al-Anshari” Setibanya dirumah, ia berkata : Wahai Rasulullah, rumah saya ini ada dua tingkat, anda diatas dan saya tinggal di bawah.
Beliau menjawab : Aku ingin dekat dengan orang-orang, dekat dengan masjid, maka aku memilih di sini. Yang beliau maksudkan adalah di bawah. Maka Abu Ayyub menempatkan beliau di bawah, sedangkan dia dan istrinya tinggal di atas.
Tibalah waktunya tidur, namun Abu Ayyub hanya membolak balikkan tubuhnya, seolah ia kepanasan sehingga tidak dapat tidur. Sang istri bertanya : “ ada apa denganmu? Mengapa kamu tidak tidur?”
Ia menjawab: “ Demi Allah aku tidak dapat tidur, bagaimana mungkin aku tidur di atas, sedangkan Rasul saw tidur di bawahku ?”
Paginya Abu Ayyub berusaha membujuk Rasul saw agar mau tinggal di atas, namun beliau tetap menolak.
Ketika makanan dihidangkan untuk Abu Ayyub, dan ia sudah mengangkat tangannya untuk makan dan begitu pula dengan istrinya, tiba-tiba mereka urungkan. Mereka berkata: ”Demi Allah kami tidak akan makan sehingga Rasulullah saw makan. Lalu ia turun sambil membawa nampan berisi makanan berupa olahan tepung daging panggang dan ia berikan sebagai jamuan bagi Rasulullah saw. Sungguh sebuah jamuan terindah dalam sejarah.
Pada suatu malam Abu Ayyub bangun untuk shalat, tanpa sengaja ia membentur tempat air dan pecah. Melihat air menggenangi lantai, ia segera melepas mantelnya untuk mengeringkan lantai agar tidak sampai membasahi Rasul saw. Lalu ia berkata: ”Wahai Rasulullah, aku memohon kepada anda atas nama Allah, anda tinggallah di atas dan saya di bawah,” baru kemudian beliau mau naik ke atas.
Ia benar-benar menjaga Rasul saw dan tidak menyia-nyiakannya. Nabi sering mendoakannya dan mencarinya. Beliau melihatnya sebagai seorang yang sudah tua namun penuh berkah, yang segalanya ada padanya telah menjadi putih: agama, janggut, hati dan prinsipnya.
Kisah ini menunjukkan bagaimana ke zuhudan Nabi saw dan begitu pula dengan para sahabatnya, serta untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Abu Ayyub Al-Anshari.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
            Hari demi hari berlalu, kaum muslimin menyeru bala tentaranya untuk berjihad di jalan Allah, untuk menaklukkan konstantinopel dan memerangi pasukan romawi untuk memperluas kawasan islam.
Tak kala Abu Ayyub mendengar seruan jihad, ia segera mengambil pedang dan tombaknya, lalu mengendarai keledainya dan pergi ke medan perang. Ketika anak-anaknya mencegah dengan berkata : ” anda orang yang sudah tua, usia anda sudah delapan puluh tahun.”
Dia menjawab : ” tidak.”
Mereka berkata : ” Allah memberimu udzur, karena engkau kakek tua yang sudah sakit-sakitan dan tidak sanggup berperang.”
Ia menjawab : ” Demi Allah tidak, sesungguhnya Allah berfirman :
(#rãÏÿR$# $]ù$xÿÅz Zw$s)ÏOur (#rßÎg»y_ur öNà6Ï9ºuqøBr'Î/ öNä3Å¡àÿRr&ur Îû È@Î6y «!$# 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) óOçFZä. šcqßJn=÷ès? ÇÍÊÈ  
” Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah:41)
Memang berat untukku, namun demi Allah aku akan tetap berangkat,” maka ia pun pergi menuju medan jihad.
Perhatikanlah usia yang penuh berkah ini, bandingkan dengan mereka berusia delapan puluh tahun di zaman ini yang justru berusaha mengakhiri perjalanan hidupnya dengan kesaksian palsu, permainan, kedzaliman, dan kebohongan. ! Na’udzubillah...  sudah tua renta namun tak jua bertaubat!
Kita di buat terkejut oleh orang yang sudah tua renta namun bersumpah palsu, mencuri, memutus tali silaturrahim, menganggu tetangga dan menggunjing di tengah orang banyak.
Adapun Abu Ayyub, ia jadikan usianya yang sudah delapan puluh tahun sebagai ketaan kepada Allah, dia berangkat bersama para pasukan dengan menaiki bahtera mengarungi samudera, seraya melagukan kalimat yang abadi Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah.
Pertempuran telah dimulai, maka ia pun mandi, memakai kain kafannya, memakai wewangian dan berkata kepada kaum muslimin : Aku meminta kepada kalian demi Allah, jika hari ini aku terbunuh, carilah akhir batas tanah kaum muslimin dengan orang romawi, kuburkan aku di bawah benteng konstantinopel, semoga Allah membangkitkan aku di hari kiamat kelak sebagai seorang mukmin di antara orang-orang kafir. Allahu Akbar...
Akhirnya dalam pertempuran itu kepalanya yang suci, yang selama ini senantiasa bersujud kepada Allah, terpenggal. Abu Ayyub gugur dan dimakamkan di sana, siapa yang pergi ke sana hendaknya ia mengucapkan salam kepadanya, sampaikan pula salam kaum muslimim kepadanya.
Salam sejahtera untuk Abu Ayyub Al-Anshari dari semenanjung Arab, semoga Allah memberikan balasan pahala atas jasanya pada ummat Muhammad saw.
Semoga Allah memberinya kebaikan sebagaimana ia telah berbuat kebaikan kepada kita, dan semoga Allah mengumpulkan kita dengannya di negeri kemuliaan. Aamiin ya robbal a’lamiin.
Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat, kekurangan hanya milik saya, kelebihan hanya milik Allah.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Tharieq
Wassalamu’alaikum.wr.wb...           






4 komentar:

  1. assalamu'alaikum,
    ayu. good.uda bikin tulisan ini.
    cb, yg selanjutnya km ksh uraian dr km pribadi. misal apa yg hrs diteladani dr tokoh tsb. dan di setting lagi layoutnya spy pembaca lbh nyaman mbacanya. trims

    BalasHapus
  2. Good ay, keep writing yaa...
    untuk selanjutnya coba untuk mengembangkan tulisan dg menambahkan argumentasi pean, oke..:)
    monggo sareng2 belajar..^^

    BalasHapus
  3. inspirasi baru...di tunggu kisah slanjutx ukhti...:)

    BalasHapus
  4. Bagus... sy juga pengagum sultan. Cm jgn copast ya... biar menarik. :)

    BalasHapus